Selasa, 09 Oktober 2012

KEPEMIMPINAN NEHEMIA


KEPEMIMPINAN NEHEMIA


A.    LATAR BELAKANG NEHEMIA DAN KARAKTERNYA
  1. Latar Belakang
Dalam Alkitab kita mengenal seorang tokoh dalam Perjanjian Lama yang bernama Nehemia. Dalam Alkitab terjemahan lama kita mengenalnya dengan nama Nehemya atau juga dalam Bahasa Inggris Nehemiah. Nama Nehemia sendiri dalam Bahasa. Ibrani.( הימחנ ) berarti Yahwe menghibur. Sehingga dalam Kamus Gering diartikan “Yehovah menghiburkan” yang berasal dari kata “Jehovah comfort”. Namun juga ada yang mengartikan namanya dengan sebutan “Yehovah atau Tuhan itu besar”. Ini menunjukkan bagaimana nantinya Nehemia ini dipakai Tuhan untuk membawa penghiburan bagi bangsanya. Terlepas dari arti namanya, Nehemia adalah putra dari Hakalya.  Saudaranya bernama Hanani. (Neh 1:1). Ia lahir dan tinggal di Persia. Ini karena pada masa itu Yehuda sebagai bagian Israel selatan sudah dibawa ke pembuangan sejak zaman Babilonia. Setelah Babilonia dikalahkan Persia maka seluruh wilayah Babilonia diambil alih oleh Persia, termasuk tempat orang-orang Yehuda yang dibuang itu berada. Jadi ada rentang waktu panjang dari zaman Babel menyerang Yehuda dan masa dimana Nehemia ada. Selain itu jika Nehemia lahir di Yehuda tentu ia tahu sejak awal bahwa keadaan Yerusalem sudah porak-poranda dan temboknya sudah hancur (Neh1:3). Dengan demikian tentu Nehemia lahir di Persia. Saat itu ia memiliki kedudukan yang tinggi, sebagai juru minuman raja Persia di Susan (Neh 2:1). Ia hidup pada masa pemerintahan raja Artahsasta I (464-424 SM). Ia tinggal di Persia hingga tahun ke- 20 pemerintahan raja ini. Ia bukan orang sembarangan karena Juru minum merupakan kedudukan istimewa. Tidak semua orang dapat berhadapan dengan raja dan mengatur kebutuhan raja seperti juru minuman dalam hal ini. Nampaknya ia orang yang disukai oleh raja. Hal ini nampak ketika ia berwajah muram saat menghidangkan minuman bagi raja. Jika ia bukan orang yang dekat dengan raja tentu ia akan langsung dibunuh jika bermuka muram di hadapan raja. Bahkan raja bertanya dan hendak memberikan apa yang diinginkan oleh Nehemia. Karena tidak disebut-sebut istrinya, maka mungkin dia seorang kasim. Ia kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali tembok-tembok Yerusalem(Neh 2:1-6:19). Ia diberi kuasa oleh raja untuk memimpin rombongan Yahudi terakhir yang pulang ke negaranya dan membangun tembok keliling Yerusalem (Neh 7:1). Tugas itu dilakukannya dalam waktu 52 hari pada tahun 445 seb. Mas., meskipun usaha pembanguan kembali dirintagi dengan perlawanan dari pihak bangsa Samaria dan musuh bangsa Yahudi lainnya (Neh 6:15). Ia termasuk salah seorang organisator yang paling kuat dari masyarakat Yahudi yang pulang kembali setelah pembuangan. Dan kemudian ia menjadi Kepala daerah Israel (Neh 8:9). Dengan Ezra menetapkan kembali ibadah (Neh 8:1-18). Ia pelopor, penggerak dan orang yang mengkoordinasi pembangunan tembok Yerusalem hingga kepada pentahbisan tembok Yerusalem (Neh 12:1-47).

  1. Karakter
Jika di atas sudah diuraikan tentang bagaimana “background” kehidupan yang mewarnai sejarah tentang Nehemia, maka sekarang kita akan melihat karakter Nehemia. Dari sejak awal kitab ini kita langsung dapat melihat bagaimana nampaknya Nehemia itu. Ketika Hanani saudaranya datang dari Yehuda bersama beberapa orang dari sana, ia mendengar berita yang mengejutkan hatinya dari mereka. Nampak jelas bahwa Nehemia adalah orang berhati lembut. Ia langsung terduduk, menangis dan berkabung berhari-hari lamanya. Keadaan Yerusalem yang sudah porak poranda. Ia juga berpuasa dan berdoa selama itu untuk keadaan bangsanya. Ia juga menjadi murung ketika menghidangkan minum kepada raja. Ia orang yang sangat peka perasaannya, mudah iba dan tentunya dengan saudara sebangsanya ia sangat berempati melihat keadaan mereka. Ia tidak menangguhkan diri untuk terus menikmati keadaannya, namun menempatkan diri sebagaimana orang lain. Ia juga memiliki jiwa yang besar, mau mengakui dosanya dan keluarganya, bahkan menjadi wakil bagi bangsannya untuk mengakui dosa bangsanya (Neh 9:1-38). Ia juga orang yang setia dan takut kepada Tuhan dan hukum-hukumnya.

B.     NASIONALISME NEHEMIA
Meski lahir di Persia ia tidak lupa dengan tanah leluhurnya yang ada di barat Sungai Yordan yaitu tanah Yehuda. Setelah menerima berita mengenai keadaan Yerusalem yang begitu menyedihkan (mungkin oleh kejadian-kejadian dlm #/TB Ezr 4:7-23*), dia memohon dan memperoleh izin berangkat ke tanah airnya sendiri dan diangkat menjadi gubernur. Ini jelas sekali menampakkan semangat nasionalisme Nehemia. Ia tidak hanya diam saja setelah mendengar kondisi tanah leluhurnya itu. Ia melakukan langkah-langkah strategis yang nyata untuk menunjukkan kecintaannya pada tanah airnya. Hal yang paling pertama ia lakukan adalah membawa nasib bangsanya ke hadapan Tuhan. Dalam hal ini Nehemia bukan hanya berdoa, namun ia berkabung dan berpuasa. Baginya makan atau minum dan kegembiraan tidak ada artinya jika kondisi bangsanya demikian ini. Ia menyediakan diri untuk mengakui dosa-dosa bangsanya. Ia sudah berlaku sebagai imam yang mewakili bangsanya mengakui dosa yang telah mereka lakukan. Ia tidak menutup-nutupi satu pun pelanggaran yang telah dilakukan bangsanya. Ia pun merendahkan diri dan memohon belas kasihan Allah bagi bangsanya. Ketika ia menghadap raja pun ia bertanya kepada Tuhan apa yang mestinya ia minta kepada raja bagi bangsanya. Nehemia telah  melakukan hal yang sangat baik. Ia melakukan hal yang terpenting yaitu membawa bangsanya ke hadapan Allah. Hal seperti ini sering dilupakan oleh kita yang hidup pada masa sekarang. Kita mungkin mengerti kondisi bangsa kita. Mungkin kita sedih dan kecewa dengan keadaan itu. Namun, sering kita melupkana hal utama yag seperti Nehemia lakukan ini. Kita lupa bahkan tidak mau berdoa bagi bangsa ini. Kita juga tidak mau merendahkan diri mewakili bangsa kita untuk mengakui dosa bangsa kita. Dan mungkin kita tidak memohon belas kasihan Allah dan bertanya pada Allah apa yang harus kita lakukan bagi kesejahteraan bangsa ini. Catatan pribadinya menjadi bagian terbesar Kitab Nehemia, dan memperkenalkan dia sebagai yang taat berdoa, beramal dan setia pada tugasnya. Dia dan orang Yahudi mempersilakan Ezra membaca hukum Taurat, dan berjanji akan mematuhi perintah-perintah Allah yang tertulis di dalamnya..
Kedua, ia tunduk di bawah otoritas pemimpin. Ia memang hendak melakukan perubahan dan pemulihan bagi bangsanya, namun ia tidak melakukan ini sesuai kehendak hatinya sendiri. Ia masih mengakui kedudukan kerajaan Persia yang menguasai bangsanya. Ia tetap tunduk kepada kuasa dari raja Artasastha. Karena itu, ia bertanya dan hanya akan melakukan sesuatu jika raja berkenan. Ia mengikuti semua aturan-aturan hukum yang berlaku. Ia memohon surat kuasa dan hak atau otoiritas sesuai dengan kehendak raja.
Ketiga, ia mengatur strategi dan mengelola perencanaan pembangunan dengan bijaksana. Ia meminta pertolongan gubernur-gubernur di sekitar Yerusalem. Sesampainya di sana ia meneliti dengan seksama hal-hal apa yang perlu dilakukan, bagian tembok mana yang harus diperbaiki dan sebagainya. Biarpun ada perlawanan seru (*SANBALAT; *TOBIA) dia dan orang Yahudi membangun kembali tembok-tembok Yerusalem dalam 52 hari. Waktu ia pulang ke Persia, beberapa bentuk penyelewengan yang telah dia tumpas kambuh lagi dalam pola hidup bangsanya. Dan setelah kembali lagi di Yerusalem dia harus melakukan pembaharuan-pembaharuan segar. Untuk menentukan tarikh tindak kebijaksanaannya.

C.    PERGUMULAN NEHEMIA
Dalam melakukan tugasnya Nehemia bukan tanpa halangan, tanpa pergumulan atau tanpa pertimbangan yang rumit. Dari awal catatannya sudah jelas bahwa banyak hal yang harus Nehemia yang pergumulkan. Pertama, ia harus meninggalakn kehidupan yang sudah mapan di Persia. Ia yang sudah ada di posisi yang penting dan nyaman , harus rela meninggalkan hal itu jika hendak melakukan perubahan bagi bangsanya. Ia harus meninggalkan kenyamanan-kenyamanan yang sudah ia miliki. Ketika ia di hadapan raja pun ia harus mempertaruhkan nyawanya. Jika raja tidak berkenan maka bukan tidak mungkin raja akan membunuhnya. Ketika ia melakukan perjalanan ke Yerusalem ia juga menghadapi bahaya. Ketika melkukan pembangunan ia menghadapi perlawanan dari Sanbalat dan Tobia. Ia juga menghadapi apa ketidakpatuhan bangsanya. Ini semua bukan pergumulan yang mudah. Namun syukur kepada Tuhan karena Ia memampukan Nehemia untuk dapat malalui semua itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar