Selasa, 09 Oktober 2012

Robert Raikes dan Perkembangan Sekolah Minggunya


Robert Raikes dan Perkembangan Sekolah Minggunya

Revolusi Industri yang terjadi di Inggris abad 18 menjadi background dari munculnya Sekolah Minggu. Ada beberapa hal yang membuat revolusi ini terjadi. Pertama, kekayaan Inggris akan bahan mentah, baik di Inggris sendiri (wol, batubara, besi) maupun di daerah jajahannya. Kedua, luasnya daerah pemasaran sehingga mendorong produksi yang besar. Ketiga, kekuatan armada lautnya yang memungkinkan distribusi produksi. Keempat, pemerintahan yang stabil. Kelima, banyak penemuan yang dihasilkan penemu-penemu Inggris meringankan pekerjaan manusia atau menggantikan tenaga manusia dalam melakukan proses produksi. Terakhir, banyaknya permintaan pasar akan wol. Ini menimbulkan efek beruntun, pemilik industri butuh tanah lebih luas untuk domba. Ini membuat lahan pertanian berkurang sehingga petani bermigrasi ke kota menjadi buruh dengan upah rendah di pabrik tersebut.
Revolusi industri ini menimbulkan kapitalisme dan kemerosotan moral. Pemerasan tenaga manusia dengan upah kecil membuat anak dibawah umur ikut dipekerjakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Banyak pencurian, mabuk-nabukan dan keributan. Semua ini tidak lain adalah efek beruntun yang disebabkan oleh revolusi tersebut. Pemilik industri semakin kaya sedang buruh semakin melarat dan tidak terperhatikan.
Hal ini ditentang Adam Smith dalam karangannya “An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of  Nation”. Ia mengatakan produksi akan meningkat jika ada perhatian terhadap tenaga kerja, bukan hanya menuntutnya bekerja lebih keras tanpa memperhatikan kesehatan atau keadaannya. Namun hal ini tidak dihiraukan oleh pemerintah Inggris. Perubahan bentuk kehidupan sosial dari masyarakat pertanian menjadi perindustrian ini tidak diimbangi persiapan untuk menanggulangi masalah-masalah yang mungkin akan timbul. Masa inilah yang melatarbelakangi kehidupan Raikes dan pandangannya.
A.    Riwayat Hidup (1735-1811)
Ia lahir dari keluarga menengah di Gloucester, Inggris. Ayahnya merupakan penerbit Gloucester Journal. Lewat surat kabarnya ia menyampaikan pandangan-pandangannya. Robert Raikes adalah anak sulung dari istri ketiga. Ia lahir tanggal 14 September 1735. Ia mendapat pendidikan di sekolah milik jemaat dan meneruskan ke sekolah katedral Gloucester pada usia 14 tahun. Ia mengikuti jejak ayahnya menjadi penerbit pada usia 21 tahun. Pada 23 Desember 1767 ia menikah dengan Anne Trigge. Dari pernikahannya ini ia memperoleh 4 orang anak laki-laki dan 5 anak perempuan. Namun 2 anak laki-lakinya meninggal. Sebagai gantinya ia mendapat seorang bayi laki-laki.
Raikes meneruskan semangat ayahnya untuk memperhatikan nasib buruh pada masa itu dan narapidana. Ia mendorong penguasa untuk memperbaiki keadaan kaum miskin dengan  memberi bimbingan dan latihan. Raikes juga mengecam pengusaha yang mendapat keuntungan dari penderitaan buruh. Ia bahkan memprotes kebijakan negara yang melalaikan keadaan ini. Tanpa usaha memasyarakatkan narapidana negara melakukan kekerasan terhadap mereka. Sejak tahun 1768 ia menggambarkan keadaan penjara setempat.
B.     Berdirinya Sekolah Minggu
Beberapa orang berpendapat bahwa kunci kemakmuran suatu negara adalah banyak tenaga kerja miskin yang dituju. Adam Smith berpendapat lain, menurutnya negara akan makmur apabila tenaga kerjanya menerima upah yang lebih besar. Sebab hal tersebut dapat menjadi stimulasi agar orang yang bersangkutan menjadi lebih rajin bekerja.
Pendapat Adam Smith ini tidak dihiraukan oleh para pemimpin pemerintah. Industri dan Gereja Inggris akibatnya mereka semakin makmur dan kaum buruh semakin melarat. Hal inilah yang kemudian memicu Robert Raikes untuk mendirikan Sekolah Minggu dengan tujuan untuk menolong ratusan anak di Inggris yang menjadi korban peralihan sosial dari Revolusi Industri.
Robert Raikes adalah orang yang tergolong berada. Sebagai anak seorang pengusaha percetakan, ternyata iapun memiliki semangat yang sama dengan ayahnya. Ia seorang Inggris dari golongan kelas menengah yang memiliki kepedulian terhadap kaum miskin, khususnya korban Revolusi Industri. Banyak koran- koran hasil terbitannya yang mengangkat fakta- fakta yang nyata seputar kemiskinan dan menjadi srana untuk lebih memperdulikan orang- orang miskin.
Dalam perkembangannya, Robert Raikes tidak hanya memperhatikan kaum lemah yang dewasa saja, tetapi juga anak- anak. Ia sangat prihatin dan menyayangkan kondisi anak- anak yang kurang mendapatkan perhatian, khususnya dalam pendidikan moral dan spiritual. Hal ini di buktikan dengan banyaknya ank- anak yang menyia- nyiakan waktu di hari minggu, saat dimana mereka tidak bekerja. Ini pulalah yang kemudian memicu Robert Raikes untuk mendirikan Sekolah Minggu. Meskipun awalnya sulit, karena tidak mudah untuk mengubah kelakuan anak- anak yang sudah terbiasa liar tersebut, bahkan beberapa ibu- ibu pengajar mereka kewalahan. Namun, pada akhirnya usaha tersebut mulai menampakkan hasil dengan kerjasama anatara pendidik dan Robert sendiri serta orang tua anak- anak tersebut, ternyata lambat laun anak- anak tersebut mulai bisa untuk di didik dan diarahkan.
Dampaknya terlihat nyata, dimana ternyata kejahatan mulai berkurang. Tidak banyak lagi anak- anak yang berkumpul hanya untuk menyia- nyiakan waktu untuk hal- hal yang tidak bermanfaat. Hal tersebut mulai mengetuk Gereja (Pdt. Stock) untuk bekerjasama mendirikan Sekolah Minggu. Ternyata usaha perintisan Sekolah Minggu Robert Raikes tidak sia- sia.

C.    Prestasi Raikes
Praktek pendidikan perlu di dasarkan pada pandangan tertentu.entah pandangan itu bersifat teologis, filosofis atau “psikologis”. Teolog raksasa seperti Augustinus, Luther, dan Calvin lebih dahulu mengupas pikiran dasariah. Baru kemudian menganjurkan implikasinya bagi praktek pendidikan agama kristen. Pemikir lain seperti Cornenius, Pestalozzi dan Froebel adalah pendidik yang melihat pendidikan sebagai hak bagi semua anak dan kemudian berefleksi atas teologi mana yang selaras dengan pengalamannya sebagai pendidik dan sebaliknya bagaimana teologi itu menyoroti kebutuhan pendidikan.
Ketika kita berusaha menggolongkan tempat Raikes dalam sejarah. Kita harus mencari kategori yang sama sekali lain. Ia bukanlah seorang pemikir yang mampu. Raikes tidak ada pikiran yang menuntut opendidikan bagi anak miskin, karena mereka uga adalah orang yang diciptakansegambar dengan Allah.
Baginya kelas bawah tidak boleh mengancam hak istimewa yang dinikmati kaum atas. Memang, mutu kehidupan bagi keanggotaan kelas bawah perlu di perbaiki sehingga mereka memiliki sifat yang lebih manusiawi, tetapi Raikes hanya menganjurkan siasat untuk mengajar anak-anak membaca, karena dengan ketrampilan itu mereka dapat membaca Alkitab. Dengan demikian akhlak mereka akan lebih baik dan kelakuannya tidak akan mengancam hak kelas menengah dan kelas atas. Jadi, sekolah minggu mula-mula didirikan untuk menolong angkatan muda agar hidup lebih tenang dalam masyarakat industri yang sedang dibangun.
Akan tetapi, beberapa pengusaha Inggris sadar akan dampaknya. Anak yang mampu mebaca dan menulis tidak akan merasa puas lagi dengan keadaanya. Mereka akan mencari gaji yang besar daripada yang berlaku pada zaman itu. Dengan kemampuan membaca itu berarti pula bahwa para pemimpin tidak dapat lagi mengendalikan sumber keterangan yang tersedia bagi kaum pekerja. Mereka dapat membaca tentang revolusi di perancis. Demikianlah kita membaca pikiran dari salah seorang penentang sekolah minggu.
Selaras dengan keprihatinan itu, perdana mentri Ptt pernah mempersiapkan perundang-undangan yang melarang penyelenggaraan sekolah minggu beserta pendirian sekolah baru. Karena para pengusaha khawatir bahwa pendidikan akan mengancam stabilitas sumber perburuhan yang rela berkorban untuk gaji yang minim.
Kecaman tidak langsung terhadap sekolah minggu di alamatkan pada integritas Raikes sendiri. Dikatakan bahwa Raikes bukanlah seorang saleh, karena ia melanggar kesucian hari sabat. Setiap hari minggu ia berada di kantor untuk mempersiapkan berita yang akan di terbitkan hari senin.
Dalam kecaman pribadi itu tersirat juga pikiran bahwa mendidik anak-anak pada hari minggu pun berarti melanggar kesucian sabat. Tetapi, sebenarnya kecaman yang terakhir berakar dalam masalah kekuasaan gerejawi. Beberapa pendeta gereja negara khawatir bahwa kekuasaanya akan di rongrong kalau anak-anak menerima bimbingan yang tidak di awasi langsung oleh pendeta. Tentu, ada saja pendeta seperti pendeta stock yang tidak hanya menyambut sekolah minggu dengan baik, malahan turut mendirikannya.
Raikes sendiri pernah mempertahankan kesucian pelayanan mendidik anak-anak miskin itu pada hari sabat.
Disamping kecaman yang dilontarkan kepada Raikes karena sekolah minggu melanggar titah ke-4, ia juga mengalami ejekan pribadi.
Kembali lagi apda cara menggolongkan Raikes dalam sejarah pendidikan agama kristen. Ia pemilik perusahaan surat kabar yang dibiasakan untuk merumuskan masalah dan segera mencari sarana yang ampuh untuk mengatasinya. Banyak pendeta dan teolog profesional di inggris pada abad itu yang juga sadar akan keadaan buruk yang dialami oleh kaum bawah, tetapi semua pokok teologi yang baik itu tidak mendorong mereka untuk mencari siasat guna melayani anak-anak yang tidak di perhatikan oleh masyarakat.
Tetapi Raikes adalah sesama manusia narapidana dan anak-anak yang di tindas oleh apra pengusaha. Ia turun tangan; ia berbuat sesuatu demi pelayanan mereka, meskipun perbuatannya itu di dasarkan pada teolog, filsafat dan etika yang dapat saja dikecam.
Tinjauan itu tidak berarti bahwa dasar teologinya bersifat sambilan belaka, dan bahwa hanya gagasan praktis sajalah yang di perlukan, malahan tenaga yang berbakat tentu dapat saja mempengaruhi arah gerakan sejarah sesuai dengan kebutuhan zaman. Pada bagian akhir abad ke-18 keadaan di inggris menuntun pelayanan kreatif, yang rela memakai bakat untuk mempropagandakan gagasan yang diperlukan oleh kebutuhan masyarakat industri inggris. Kemuadian, gagasan baik itu tidak akan mendapat kemajuan kecuali para pemikir terlibat dalam perencanaan isi kurikulum dan sarana untuk melaksanakannya.
D.    Sekolah Minggu Pertama
Kita mulai dengan peranan Raikes sendiri. Ia menulis bahwa ia pernah mengajar bagaimana salah, satu kekuatan yang tidak kelihatan dapat menghasilkan dampak positif atas salah satu benda. Ia membuktikan dengan menggunakan sebatang magnet. Sebatang jarum di letakkan lantas ia menggerakkan jarum itu menggunakan magnet. Ia meletakkan jarum yang lain lagi, jarum yang kedua itu segera di tarik kerjarum pertama. Raikes mencatat ia memakai benda itu sebagai “teksnya”. Ia menyimpulkan bahwa sebagaimana magnet itu menarik sebatang jarum, begitu pulalah mereka dapat menarik anak-anak lain ke gereja. Anak-anak dari kelas itu, dengan daya penarik magnet mulai mempergiatkan anak-anak sebayanya untuk bertemu dengan bapak Raikes di Cathedral. Pada tahun 1784 ia mencetak peraturan-peraturan bagi sekolah minggu yang di susun oleh Pdt.W.Ellis, yang akan di pakai oleh sekolah minggu di Stroud peraturan-peraturannya sebagai berikut:
I.     Bapak atau Ibu guru diangkat oleh apra penyokong wajib mengajar di tempatnya setiap hari minggu dari pkul  08.00 sampai pukul 10.30 selama musim panas, dan sorehari pukul 17.00 sampai 20.00 (kecuali hari minggu yang kedua setiap bulan) ia akan mengajarkan vak membaca, katekismus, doa-doa pendek yang berasal dari Dr.Stonehouse. Di samping itu guru, adalaj seorang murid yang mampi, wajib membaca tiga atau empapt bab berturut-turut dari Alkitab agar anak didik mempunyai pengetahuan sistematis tentang sejarah dan untuk pemantapan isi alkitab.
II.   Pada umumya orang-orang yang diajar itu adalah anak yang lebih tua daripada anak yang lazim diterima di sekolah apda hari kerja biasa. Mereka ini terpaksa bekerja untuk memperoleh rezeki, dan karena itu ada peluang untuk menghadiri sekolah tersebut. Tetapi orang dewasa yang tuna aksara juga dipersilahkan datan sebagai pendengar, khususnya bagi mereka yang ingin mendengarkan firman Allah, mempelajari iman Kristen dan mengamalkannya, disamping katekismus gereja. Dengan mendengar pendidikan pengajaran yang berlangsung untuk kaum muda orang dewasa sendiri memperoleh manfaat.
III.  Di harapkan juga supaya para penyokong menghadiri sekolah ini untuk menjamin bahwa suatu tujuan sekolah terpenuhi. Mereka hendaknya memberikan hadiah sederhana kepda tiga anak yang mempunyai prestasi paling tinggi.
IV.  Para pengunjunng itu akan menuliskan laporan tntang nama orang tua atau orang dewasa lain yang walaupun berkehendak menyekolahkan anaknya., namun tidak melakukannya. Para pengunjung itu akan menuliskan nama orang tua yang menyekolahkan anak dan nama anak yang mengganggu mereka dalam pengalaman belajar. Anak nakal ini tidak akan menerima bantuan dari dermawan. Mereka yang tidak memperhatiakan jiwanya tidak berhak menerima bantuan bagi tubuhnya.
V.   Semua anak  yang menghadiri sekolah ini wajib beribadah pada kebaktaian pagi dan sore setiap hari minggu =. Pada setiap hari minggu kedua mereka wajib datang ke gereja paa pukul 18.00 untuk diuji dan untuk mendengar penjelasan katekismus yang dibawakan oleh pendeta.
Elis sendiri menambahkan catatan atas peraturan-peraturan itu
1.    Pembaharuan akhlak orang lebih berhasil kalau proses itu di mulai ketika para pelajar masih muda
2.    Kebaktian adalah bagian penting dari seluruh pengalaman belajar
3.    Hadiah berupa pakaian atau bahan bacaan seperti Alkitab, diberikan kepada anak yang rajin dan berhasil dalam studinya
4.    Pada waktu seorang anak didik menjawab sebuah petanyaan, maka anak-anak lain wajib mengikutinya dalam hati, agar perhatian semua anak terfokus pada masalah yang sama
5.    Dalam proses belajar ini, tugas hafalan adalah tugas belajar yang amat menonjol.
Tujuan sekolah minggu di umumkan di Boughton daerah Kent:
Untuk membuka peluang pendidikan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga miskin di daerah ini, tanpa mengganggu pekerjaan mereka pada hari kerja biasa, dan untuk membiasakan anak-anak sejak usia muda untuk selalu beribadah setiapo hari minggu serta menghabiskan jam senggang pada hari minggu melalui kegiatan yang baik dan teratur. Anak itu akan di ajari membaca, mengenal tanggung jawab seorang kristen, khususnya untuk belajar rajin dan berkelakuan baik sesuai dengan keperluanya sebagai buruh dan poembantu di kemudian hari.
Pada tahun 1784 seluruh kota Leeds di bagi atas 7 bagian. Ada 26 sekolah dengan 200 pelajar yang diajar oleh 45 orang guru. Pelajarannya dimulai pukul 13.00. pada waktu ini anak-anak di ajari membaca, menulis dan agama. Pada pukul 15.00 mereka diantar ke jemaat untuk beribadah. Sesudah itu mereka kembali lagi ke masing-masing sekolah untuk mendengarkan cerita, menyanyikan mazmur dan berdoa. Ada kelas khusus untuk anak laki-laki dan yang lain untuk perempuan. Ada 4 orang yang diangkat secara khusus untuk mengunjungi setiap sekolah, untuk mengecek anak yang hadir dan absen. Anak itu akan dicari di rumah dan di jalan-jalan. Raikes mencatat  bahwa pada hari Natal 1785 ia terlinat dalam pesta makan bersama dengan sebanyak 350 orang anak. Para penyokong sekolah yang menanggung biayanya, termasuk peenyajian makanan. Raikes senang mengunjungi Sekolah Minggu untuk makan bersama dengan teman-temannya yang muda itu. Dengan adanya sekolah minggu anak-anak belajar membaca dan menulis. Tetapi barangkali hasil yang mencolok adalah hasil yang bersifat rohani, yakni ada perbaikan dalam hal swacitra ank-anak itu sendiri. Ia merasakan bahwa dirinya diperhatikan oleh guru dan penyokong sebagai seorang pribai yang berharga. Walaupun ia seorang yang miskin namun ia adalah seorang manusia yang dikasihi orang-orang tertentu.  Iapun mulai mengenali dirinya sebagai yang juga dikasihi oleh Tuhan.
Jauh sebelum ada gerakan oikumene, gagasan sekolah minggu cenderung mendorong kerjasama di antara pendeta dan kaum awam yang beribadah dalam sinode yang berbeda. Sumbangan yang diterima dari anak-anak di bagi-bagikan diantara jemaat-jemaat sinode yang berbeda. Tugasnya lebih penting ketimbang nama sinode masing-masing. Msksudnya mengenai berdepat tentang arti sakramen makna penahbisan pendeta dan pokok-pokok dogmatika tertentu. Penyelenggaraan seklah minggu terjadi karena orang-orang kristen tertentu, sering kali awam, lebih tertangkap terhadap gagasan mulia itu, yaitu mendidik anak miskin ketimbang menonjolkan hak-hak sempit gereja masing-masing.
Biaya pelaksanaan sekolah minggu ditutupi oleh sumbangan dari dermawan dan bukan dari kas negara ataupun kas gereja pusat. Diantara dermawan itu dapat disebutkan nama Raja George III dan Ratu Charlotte. Mereka mengharapkan agar setiap anak di Inggris mampu mebaca Alkitab. Proses menerima uang dan mengeluarkannya diperlancar dengan pendirian The Sunday School Society (Perhimpunan Sekolah Minggu) Pada tahun 1785.Selama sepuluh tahun pertama perhimpunan itu telah membagi-bagikan 91.915 buah buku untuk mengajarkan anak membaca, 24.232 buah Kitab perjanjian Lama atau Kitab Perjanjian Baru saja, dan 5.360 buah alkitab lengkap. Ssumbangan itu dipakai oleh 65.000 anak-anak yang belajar pada 1.012 Sekolah minggu.
Tatkala Robert Raikes meninggal perkembangan lebih lanjut dari “anak yang dikasihi itu” tidak terganggu, karena keterlibatan banyak orang di dalamnya. Tugu hidup inilah yang lebih menghormati Raikes dari pada tugu batu atau perunggu, meskipun tugu atau plaket itu memang didirikan atas namanya.
E.     Pertumbuhan Sekolah Minggu
Gagasan tentang Sekolah Minggu disambut baik oleh warga Injili dalam Gereja Inggris dan Gereja bukan gereja Negara.
1.    Sekolah Minggu di Amerika.
Pada tahun 1816, ibu Joanne Bethune dari kota New York mendirikan Perserikatan Wanita Bagi Kemajuan Sekolah Sabat di New York. Lewat badan ini ibu Bethune memberikan pengertian betapa pentingnya mengikuti Sekolah Minggu. Namun kegiatan atau gerakan ini ditentang oleh para pendeta dan kaum awam. Sekolah minggu di Amerika lebih baik dari pada di Inggris.
Di Amerika Sekolah Minggu mulai mengembangkan diri dengan penciptaan lagu-lagu pujian. Contoh-contoh lagu sekolah minggu saat itu adalah; “S’lamat di Tangan Yesus”, “Ya Tuhan tiap Jam”, “Kumemerlukan-Mu”, “ku berbahagia”, “Yesus Berpesan”. Pengalaman orang dalam perang mendorongnya untuk mengubah lagu-lagu tersebut menjadi lagu-lagu yang bersemangat, yang mendorong anak agar mereka punya hasrat untuk berbaris demi melaksanakan tugas mulia, misal “Maju Laskar Kristus”, “Hai bangkit Bagi Yesus”. Teologi gerakan Sekolah minggu saat itu tidak membedakan anak-anak dengan orang dewasa, mereka semua mempunyai dosa dan harus bertobat dari dosanya dan harus menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, jadi pertobatan anak-anak lebih dipentingkan saat itu. Baru pada awal abad ke-20 lagu dan syair dari pujian untuk sekolah minggu mulai diubah dengan landasan pemikiran bahwa anak-anak bukan orang dewasa , mereka perlu hidup sebagai seorang anak-anak. Dan akhirnya para musisi menyusun syair yang menekankan bahwa Allah mengasihi anak, misal “Yesus, Kawan anak-anak”, “Yesus Mengasihiku”.
Kelemahan Sekolah minggu abad ke-19.
         Moralitas pribadi lawan ketidakadilan sosial.
         Nilai-nilai daerah pertanian lawan nilai-nilai daerah perkotaan.
         Teologi perseorangan lawan teologi gereja.

2.    Sekolah Minggu di Eropa Barat.
a.         Jerman.
Sekolah Minggu Jerman diprakarsai oleh Wilhelm Broeckelmann dari Bremen, Jerman dan Albert Woodruff, New York pada tahun 1860. Banyak orang keberatan dengan adanya sekolah minggu ini karena mereka beranggapan tidak cukup calon guru yang sudah diperlengkapi dengan pengetahuan dan ketrampilan mengajar, dan belum cukup guru yang sudah terlatih untuk mengajar. Sekolah minggu di Jerman mengembangkan diri menjadi kebaktian anak-anak (Kindergottesdienst) maka titik beratnya adalah kebangunan rohani pada diri anak-anak melalui kebaktian dan bimbingan Alkitab.
b.         Belanda.
Berbeda dengan gagasan Sekolah Minggu di negara lain, di Belanda sekolah minggu diadakan karena atas dasar kebangunan rohani. Dan gagasan ini dibawa oleh Dr. Abraham Capadose pada bulan Oktober tahun 1836. Di kota ‘s Gravenhage ia muali mengajar dua tiga anak setelah ibadah. Tahun 1841 didirikan sekolah minggu dikota Amsterdam dan tahun 1847 dikota Rotterdam. Pertumbuhan yang luar biasa terjadi pada tahun 1857 karena pada saat itu pemerintah Belanda melarang penggunaan Alkitab pada sekolah-sekolah, sehingga para orang tua harus mengikut sertakan anak-anak mereka pada pendidikan Alkitab secara alternatif.

Sumber:

Sejarah perkembangan pikiran dan praktek pendidikan agama Kristen: Dari Yohanes Amos Comenius sampai PAK di Indonesia

 Oleh Robert Richard Boehlke

Tidak ada komentar:

Posting Komentar